Diet HIV/AIDS

Pada Diet HIV/AIDS diet yang diberikan adalah Diet TKTP. Karena permasalahan utamanya adalah melemahnya sistem imun dan BB terus turun dengan cepat atau lambat. Kurangnya asupan makanan disebabkan anoreksia, depresi, rasa lelah, mual, muntah, sesak nafas, diare, infeksi, dan penyakit yang menyertai.

Tujuan dari Diet Penyakit HIV/AIDS adalah:

  1. Mempertahankan BB serta komposisi tubuh yang diharapkan terutama jaringan otot (Lean Body Mass)
  2. Memenuhi kebutuhan energi dan semua zat gizi.
  3. Mendorong perilaku sehat dan relaksasi.
  4. Mengatasi gejala diare, intoleran, mual dan muntah.
  5. Meningkatkan kemampuan untuk memusatkan perhatian dengan membedakan antara anoreksia, perasaan kenyang, perubahan indera pengecap, dan disfagia.

Syarat Diet Penyakit HIV/AIDS:

  1. Energi tinggi dan protein tinggi 1,1-1,5 gram/BB untuk memelihara jaringan dan mengganti jaringan yang rusak.
  2. Lemak cukup yaitu 20-25% dari kebutuhan dengan mengutamakan MCT untuk malabsorbsi lemak. Diutamakan omega 3.
  3. Vitamin dan mineral tinggi 1 1/2 kali AKG.
  4. Serat cukup, gunakan yang mudah dicerna yaitu pektin.
  5. Cairan cukup.
  6. Elektrolit cukup (Na, K, Cl) untuk muntah.
  7. Diberikan dalam porsi kecil dan sering, dan hindari makanan yang merangsang pencernaan.

Diet AIDS I untuk HIV akut, panas tinggi, sariawan, disfagia, sesak nafas berat, diare akut, kesadaran menurun. Berupa cairan dan bubur susu setiap 3 jam.

Diet AIDS II setelah akut teratasi, bentuk saring dan cincang setiap 3 jam.

Diet AIDS III bentuk lunak bubur dan tim atau biasa tergantung toleransi.

Bahan yang tidak diperbolehkan, goreng-gorengan dan lemak tinggi, yang menimbulkan gas, dan bumbu yang merangsang serta minuman soda dan alkohol.

Almatzier, Sunita. 2004. Penuntun Diet Edisi Baru. Jakarta. Gramedia

Iklan

Diet Penyakit Kandung Empedu

Penyakit kandung empedu yang membutuhkan diet khusus adalah Kolelitiasis dan Kolesistitis. Kolelitiasis adalah terbentuknya batu empedu yang bila masuk kedalam saluran empedu menyumbat dan kram sehingga mengganggu absorbsi lemak. Biasanya faktor batu kolesterol dikarenakan faktor kegemukan, etnik, obat-obatan, penyakit saluran cerna, dan batu pigmen karena kekurangan BB, asupan lemak dan protein kurang, serta sirosis hati. Sedangkan kolesistitis adalah peradangan yang disebabkan oleh batu empedu yang lama di saluran empedu dan disertai jaundice.

Tujuan Diet:

  1. Menurunkan BB bila gemuk, dan menaikkan BB bila kurus.
  2. Membatasi makanan yang menyebabkan kembung atau nyeri abdomen.
  3. Mengatasi malabsorbsi lemak.

Syarat Diet:

  1. Energi sesuai kebutuhan, bila ada kegemukan diturunkan dengan Diet Rendah Energi.
  2. Protein agak tinggi 1-1,25 gram/BB
  3. Keadaan akut, lemak tidak diperbolehkan. Sedangkan saat kronis, dapat diberikan 20-25% lemak. Bila steatorea, lemak harus MCT.
  4. Bila diperlukan tambahan suplemen vitamin ADEK.
  5. Serat tinggi dalam bentuk pektin yang mengikat empedu di saluran cerna.
  6. Hindari makanan bergas.

Diet Lemak Rendah I/ DLR I diberikan pada pasien kolesistitis dan kolelitiasis dengan kolik akut. Diberikan dalam bentuk buah-buahan dan minuman manis.

Diet Lemak Rendah II/ DLR II diberikan jika akut hilang, mual berkurang, diberikan cincang, lunak, atau biasa. Dengan rendah kalori untuk mengurangi BB.

Diet Lemak Rendah III/ DLR III diberikan jika tidak gemuk, dan nafsu membaik. Makanan lunak atau biasa dan cukup sesuai kebutuhan gizi.

Makanan yang tidak dianjurkan adalah makanan berlemak, gorengan, dan menimbulkan gas seperti ubi, kacang merah, kol, sawi, lobak, ketimun, durian, dan nangka.

Almatzier, Sunita. 2004. Penuntun Diet Edisi Baru. Jakarta. Gramedia

Diet Penyakit Hati

Dua jenis penyakit hati yang ditemukan yaitu hepatitis dan sirosis hati. Hepatitis adalah peradangan hati yang disebabkan oleh keracunan toksin tertentu atau infeksi virus/bakteri. Penyakit ini disertai anoreksia, demam, rasa mual, muntah, serta jaundice atau kuning. Hepatitis dapat bersifat akut dan kronis. Sedangkan sirosis hati adalah kerusakan hati yang menetap akibat hepatitis kronis, alkohol, penyumbatan saluran empedu, dan berbagai kelainan metabolisme. Gejalanya adalah kelelahan, kehilangan BB, penurunan daya tahan tubuh, gangguan pencernaan, dan jaundice. Dalam keadaan berat, disertai asites, hipertensi portal, dan hematemesis melena yang dapat berakhir dengan koma hepatik.

Tujuan Dietnya adalah:

  1. Meningkatkan regenerasi jaringan hati dan mencegah kerusakan lebih lanjut dan atau meningkatakan fungsi jaringan hati yang masih tersisa.
  2. Mencegah katabolisme protein
  3. Mencegah penurunan BB atau meningkatkan BB jika kurang.
  4. Mencegah atau mengurangi asites, varises esofagus, hipertensi portal dan koma hepatik.

Syarat Diet Penyakit Hati:

  1. Energi tinggi untuk mencegah katabolisme protein (protein sparer), diberikan bertahap sesuai kemampuan pasien.
  2. Lemak cukup, yaitu 20-25% dari kebutuhan total, dalam bentuk MCT jika mengalami steatorea, atau berbentuk emulsi.
  3. Protein agak tinggi 1.,25-1,5 gram/BB agar terjadi anabolisme protein. Untuk sirosis hati dekompensasi, hepatitis fulminan dengan nekrosis hati, dan gejala ensefalopati, kurangi kebutuhan sampai 30-40gram saja. Pada sirosis hati terkompensasi 0,8-1 gram/BB. Protein nabati mencegah koma hepatikum.
  4. Vitamin dan mineral diberikan suplemen jika defisiensi, mineral Zn dan Fe untuk anemia.
  5. Natrium rendah untuk mencegah hipertensi portal, dan bila ada asites dan odema.
  6. Cairan diberikan lebih, kecuali odema.
  7. Bentuk makanan lunak jika ada mual dan muntah.

Diet Hati I/ DH I pada keadaan akut sudah teratasi, diberikan cintcang atau lunak. Protein 30 gram/BB, bila perlu diberikan formula BCAA. Bila ada asites 1 L/hari cairan. Dan bila terjadi retensi, tambahkan diet rendah garam I.

Diet Hati II/ DH II pada keadaan pasien dengan nafsu makan cukup, diberikan lunak tim atau biasa. Protein 1 gram/BB dan lemak sedang. Dan bila terjadi retensi, tambahkan diet rendah garam I.

Diet Hati III/ DH III pada keadaan pasien hepatitis akut A dan B dan sirosis hati yang nafsu makannya sudah baik. Tidak terjadi gejala berarti. Diberikan lunak atau biasa. Dan bila terjadi retensi, tambahkan diet rendah garam I.

Makanan yang dihindari adalah yang mengandung banyak lemak dan santan serta makanan bergas, beralkohol, teh, atau kopi kental.

Almatzier, Sunita. 2004. Penuntun Diet Edisi Baru. Jakarta. Gramedia

Diet Sisa Rendah

Diet Sisa Rendah adalah makanan yang terdiri dari bahan makanan rendah serat dan hanya meninggalkan sedikit sisa. Sisa adalah bagian dari makanan yang tidak diserap seperti yang terdapat pada susu dan produk susu serta serat daging yang berserat kasar (liat). Makanan lain yang merangsang saluran cerna juga harus dibatasi.

Tujuan dari Diet Sisa Rendah adalah untuk memberikan makanan sesuai kebutuhan gizi yang sedikit meninggalkan sisa sehingga membatasi volume feses dan tidak merangsang saluran cerna.

Syarat Diet Sisa Rendah:

  1. Energi sesuai kebutuhan, protein, lemak cukup sesuai kebutuhan. Karbohidrat cukup yakni sisa dari total kebutuhan.
  2. Menghindari makanan yang berserat tinggi dan sedang sehingga asupan serat maksimal 8 gram per hari. Sesuai toleransi perorangan.
  3. Menghindari susu, produk susu, dan daging berserat kasar sesuai toleransi perorangan.
  4. Menghindari makanan berlemak, terlalu manis, asam, dan berbumbu tajam.
  5. Makanan dimasak hingga lunak dan suhu tidak dingin,
  6. Makanan diberikan dalam porsi kecil tapi sering.
  7. Jika diberikan dalam jangka yang lama, disertai suplemen vitamin dan mineral, makanan formula, atau parentral.

Diet Sisa Rendah diberikan untuk pasien dengan diare berat, peradangan saluran cerna akut, divertikulitis akut, obstipasi spastik, penyumbatan saluran cerna, hemoroid berat, serta pra dan pasca bedah saluran cerna.

Diet Sisa Rendah I/DSR I untuk fase akut makanan berbentuk saring, atau diblender serta menghindari makanan berserat tinggi dan sedang, bumbu yang tajam, susu, daging, dan pembatasan gula dan lemak. Serat maksimal 4 gram.

Diet Sisa Rendah II/DSR II untuk fase kronik makanan berbentuk lunak atau cincang. Makanan berserat sedang diperbolehkan terbatas, serat tinggi masih tidak diperbolehkan. Susu maksimal 2 gelas se hari. Lemak dan gula diberikan dalam bentuk mudah dicerna, bumbu kecuali cabe, merica, dan cuka. Kandungan serat 4-8 gram.

Untuk syarat makanan antara lain tidak digoreng, tidak berserat tinggi, dan bukan kopi atau teh yang kental.

Almatzier, Sunita. 2004. Penuntun Diet Edisi Baru. Jakarta. Gramedia.

Diet Penyakit Divertikular

Penyakit divertikular terdiri atas divertikulosis dan divertikulitis. Divertikulosis adalah terdapatnya kantong-kantong kecil pada dinding usus besar akibat tekanan intrakolon yang tinggi pada konstipasi kronik. Terjadi biasa pada usia lanjut yang makanannya rendah serat. Sedangkan penyakit divertikulitis adalah penumpukan sisa makanan pada divertikulosis yang menyebabkan peradangan. Gejalanya kram bagian kiri bawah perut, mual, kembung, muntah, konstipasi atau diare, menggigil, dan demam.

Tujuan Diet Penyakit Divertikulosis adalah:

  1. Meningkatkan volume dan konsistensi feses.
  2. Menurunkan tekanan intra luminal.
  3. Mencegah adanya infeksi.

Syaratnya:

  1. Kebutuhan energi dan zat gizi lain normal, cairan tinggi 2-2,5 L per hari.
  2. Serat tinggi 30-50 gram/hari (DST)

Tujuan Diet Penyakit Divertikulitis

  1. Mengistirahatkan kolon untuk mencegah perforasi.
  2. Mencegah akibat laksatif dari makanan berserat tinggi.

Syaratnya:

  1. Kebutuhan energi dan zat gizi lain normal sesuai batasan.
  2. Jika perdarahan (melena) diberikan cair jernih.
  3. Makanan diberikan bertahap, dari mulai Diet Sisa Rendah I ke Diet Sisa Rendah II dengan konsistensi sesuai.
  4. Hindari makanan yang bersisa, seperti biji-bijian kecil, tomat, jambu, stroberi yang dapat menumpuk.
  5. Minum minimal 8 gelas per hari.

Almatzier, Sunita. 2004. Penuntun Diet Edisi Baru. Jakarta. Gramedia.

Diet Penyakit Usus Inflamatorik

Penyakit usus inflamatorik adalah peradangan pada usus halus dan usus besar dengan gejala diare, disertai darah (melena), lendir, nyeri abdomen, beratb badan berkurang, nafsu makan berkurang (anoreksia), demam, dan kemungkinan terjadi steatorea (lemak dalam feses). Penyakit ini dapat berupa Kolitis Ulseratif atau Chron’s disease.

Tujuan dari Diet Penyakit Usus Inflamatorik adalah:

  1. Memperbaiki ketidakseimbangan cairan dan elektrolit dan mengganti kehilangan zat gizi dan memperbaiki status gizi yang kurang.
  2. Mencegah iritasi dan peradangan lebih lanjut dalam usus.
  3. Mengistirahatkan usus saat akut yaitu melena.

Syarat Diet Penyakit Usus Inflamatorik adalah:

  1. Pada saat melena, hanya diberikan makanan parentral saja bukan dengan jalan oral dengan tujuan mempuasakan saluran cerna.
  2. Setelah masa akut, pasien diberi cair jernih kemudian meningkat menjadi Diet Sisa Rendah dan Serat Rendah.
  3. Setelah gejala hilang, bisa diberikan makanan biasa.
  4. Energi dan protein tinggi untuk mengembalikan kondisi status gizi pasien. Bila perlu diberikan suplemen vitamin dan mineral (A, C, D, asam folat, B12, Ca, Fe, Mg, dan Zn)
  5. Cukup cairan dan elektrolit
  6. Lemak berupa MCT karena terjadi intoleransi laktosa dan malabsorbsi lemak.

Almatzier, Sunita. 2004. Penuntun Diet Edisi Baru. Jakarta. Gramedia.

Diet Penyakit Lambung

Penyakit lambung merupakan masalah yang sering terjadi oleh semua kalangan masyarakat. Berbagai penyakit lambung antara lain gastritis akut, gastritis kronik, uklus peptikum, pasca-operasi lambung yang sering diikuti dengan adanya “dumping syndrome” dan kanker lambung. Gangguan biasanya berupa sindrom dipepsia yaitu kumpulan gejala yakni mual, muntah, nyeri epigastrum, kembung, nafsu makan menurun (anoreksia) dan rasa cepat kenyang.

Tujuan dari tatalaksana Diet Lambung adalah untuk memberikan makanan dan cairan yang tidak memberatkan kerja dari lambung dan mencegah atau menetralkan sekresi asam lambung yang berlebihan pada gastritis (maag).

Syarat-syarat Diet Lambung:

  1. Mudah dicerna supaya makanan tidak berlama-lama didalam lambung, porsi kecil dan sering untuk mengatasi mual dan muntah serta nyeri epigastrum.
  2. Energi dan protein cukup sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan dalam menerimanya.
  3. Rendah lemak, karena lemak lama didalam lambung dan akan memberatkan kerja lambung yaitu sekitar 10-15% dari kebutuhan kalori.
  4. Cairan cukup, apabila disertai muntah harus diperhatikan supaya tidak terjadi dehidrasi dan kehilangan elektrolit.
  5. Tidak berbumbu tajam, untuk mengurangi mual dan muntah.
  6. Laktosa rendah apabila ada gejala intoleran, tapi susu adalah hal yang dihindari karena bersifat asam dan korosif didalam lambung jika bertemu dengan asam lambung. Susu juga mengandung lemak tinggi yang akan merangsang pengeluaran asam lambung yang berlebih.
  7. Makan secara perlahan dan tenang, dan jika akut maka diberikan parentral sampai 2 hari saja (infus).

Diet Lambung I yaitu diberikan saat masa akut gastritis, ulkus peptikum, pasca perdarahan, dan tifus abdomenalis berat yaitu infeksi salmonela pada abdomen. Diberikan dalam bentuk saring setiap 3 jam.

Diet Lambung II yaitu diberikan saat masa akut hilang, porsi kecil tapi sering 3 x makanan utama 2-3 x selingan berbentuk lunak bubur atau tim.

Diet Lambung III yaitu diberikan saat penyakit sudah kronis dan hampir sembuh. Berbentuk lunak atau nasi biasa tergantung toleransi pasien.

Makanan yang tidak dianjurkan adalah antara lain:

  1. Beras ketan, beras tumbuk, roti, jagung, ubi, singkong, talas, cake, dodol, dan berbagai kue yang manis dan berlemak tinggi. Ubi-ubian tidak diberikan karena mengandung gas sehingga akan memperparah kekembungan pasien.
  2. Daging, ikan, ayam, yang diawetkan seperti sarden dan kornet, serta lauk yang digoreng.
  3. Tahu tempe yang digoreng dan kacang-kacang lainnya yang digoreng.
  4. Sayuran mentah, berserat tinggi (akan memperlama waktu di lambung), dan menimbulkan gas seperti daun singkong, kacang panjang, kol, lobak, sawi, asparagus.
  5. Buah yang tinggi serat dan menimbulkan gas seperti jambu biji, nanas, apel, kedondong durian, nangka, dan buah yang dikeringkan.
  6. Lemak dari hewan dan santan kental, soda, alkohol, kopi, ice cream.
  7. Lombok, bawang, merica, cuka, dan sebagainya yang tajam.

Almatzier, Sunita. 2004. Penuntun Diet Edisi Baru. Jakarta. Gramedia.